
Kondisi Ekologis dan Fisik tanah pada bantaran Daerah Aliran Pusat (DAS) Lematang menunjukkan adanya kerentanan tinggi terhadap erosi, daya retensi air ekstrem yang memicu hipoksia serta minimnya unsur hara makro. Melihat kondisi tersebut, mendorong FT Lahat untuk mengembangkan rekayasa media tanam berbasis kotoran kambing, sekam padi, sekam kopi, dan arang. Formulasi ini dirancang secara spesifik sebagai penyedia nutrisi, pencegah pencucian hara (anti-leaching), dan stimulan pelindung ekologis yang diaplikasikan langsung pada zona perakaran tanaman bantaran sungai.
Formulasi tersebut kemudian dikembangkan untuk memicu produksi “lem biologis” (Glomalin) guna mengikat agregat tanah tebing sungai, sekaligus menunjang pertumbuhan optimal vegetasi berakar kuat di kawasan DAS Lematang.
FT Lahat melakukan inovasi Rehabilitasi DAS dengan Rhizospere pada Tumbuhan Ketapang Kencana Melalui Formulasi Glomalin. Inovasi ini dikembangkan melalui formulasi material organik terpadu yang terdiri dari kotoran kambing, sekam padi, sekam kopi, dan arang. Formulasi ini diaplikasikan secara spesifik pada zona perakaran tanaman revegetasi berkayu keras dan berakar dalam, seperti Ketapang Kencana. Penerapan rekayasa media tanam ini bertujuan ganda secara ekologis merangsang produksi Glomalin (“lem biologis”) untuk mengikat struktur tanah bantaran yang rawan longsor, dan secara agronomis menyediakan suplai Asupan Nutrisi Berkelanjutan yang mampu memulihkan pertumbuhan bibit di lahan ekstrem tanpa mencemari ekosistem sungai.
Sebelum adanya program, kegiatan revegetasi untuk konservasi di
kawasan bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Lematang menghadapi tantangan karakteristik lingkungan yang sangat rentan, yang berujung pada tingginya tingkat kegagalan hidup tanaman. Dari total 17 bibit yang ditaman, tercatat hanya 10 bibit yang berhasil bertahan hidup (survival rate ±60%). Tingginya tingkat kematian bibit ini mengakibatkan dampak rehabilitasi DAS menjadi kurang maksimal, sehingga potensi penguatan struktur tebing DAS tidak tercapai. Kegagalan ini disebabkan oleh rentetan kendala fisik dan biologis di lapangan, seperti kerentanan fisik tanaman yang membuat kerdil dan pertumbuhannya lambat, pencucian hara (leaching), dan kawasan ini rentan terhadap longsor dan erosi.
Setelah program diterapkan, sebagai percobaan dilakukan penanaman 5 bibit Tanaman Ketapang Kencana baru dan 10 bibit eksisting dilengkapi dengan pengaplikasian Formulasi Glomalin langsung pada zona perakaran saat penanaman. Hasilnya, tingkat keberhasilan hidup (survival rate) pada siklus penanaman ini melonjak drastis mencapai 100%, di mana kelima bibit sulaman tersebut berhasil tumbuh sehat dan 15 tanaman Ketapang Kencana beradaptasi sempurna. Keberhasilan ini memastikan bahwa rehabilitasi DAS memberikan hasil yang maksimal, sehingga potensi penguatan struktur tebing sungai benar-benar tercapai melalui jaringan akar Ketapang Kencana. Keberhasilan ini tidak hanya memperbaiki pertumbuhan tanaman di tanah bantaran yang bergambut dan podsolik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam meminimalisir ancaman erosi dan longsor di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Lematang.