
Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) merupakan salah satu spesies anggrek endemik yang bernilai konservasi tinggi, namun populasinya semakin terancam akibat degradasi habitat alami. Budidaya anggrek jenis ini dilakukan dengan cara konvensional yaitu menggunakan pot tanah liat biasa. Namun ternyata hal ini menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain keterbatasan ruang tumbuh akar karena akar Anggrek Hitam tidak bisa menjalar bebas mencari kelembaban dan udara.
Selain itu, drainase dan aerasi juga kurang optimal, hal ini terjadi karena pot cenderung menahan air lebih lama, jika air tertahan maka media tanam akan basah dan berisiko mengalami pembusukan akar. Dampaknya, tingkat kelangsungan hidup anggrek hitam hanya mencapai 72%, laju pertumbuhan lambat, serta tingkat keberhasilan aklimatisasi dan pembuangan rendah.
Merespon permasalahan yang terjadi pada budidaya Anggrek Hitam yang dilakukan oleh IT Pangkal Balam, maka diterapkannya budidaya melalui Metode Epiphytic Mounting System. Metode ini dilakukan dengan menyesuaikan pola tanam anggrek hitam sesuai habitat aslinya sebagai tanaman epifit, yaitu menempel pada inangnya yang berupa sabut kelapa, papan pakis, atau serat alami berupa moss.
Sabut kelapa akan menyimpan kelembaban dan memberi ruang aerasi yang baik pada akar anggrek. Papan pakis bertujuan untuk menyimpan air pada pori-porinya serta teksturnya yang kasar memudahkan akar untuk menempel.
Moss berfungsi sebagai penyimpan kelembaban yang menjaga akar tetap basah, namun tidak tergenang. Papan pakis yang telah dilapisi oleh sabut kelapa tipis pada permukaannya digunakan sebagai media penempelan Tanaman Anggrek Hitam. Penempatan dilakukan dengan posisi pseudobulb dan tunas baru menghadap ke luar agar pertumbuhan dapat berlangsung optimal.
Selanjutnya, bagian akar akan ditutup menggunakan lapisan moss dengan ketebalan 0,5-1 cm untuk menjaga kelembaban tanpa mengurangi sirkulasi udara. Lalu, Tanaman Anggrek Hitam diikat pada papan pakis menggunakan tali yang lembut sehingga tanaman dapat melekat dengan baik tanpa merusak jaringan akarnya.
Metode Bio Epiphytic Mounting System pada penanaman Anggrek Hitam menciptakan lingkungan hidup yang mirip dengan habitat aslinya yang memiliki kelembaban, sirkulasi udara dan pencahayaan yang lebih seimbang. Selain itu, Anggrek Hitam menjadi lebih sehat, cepat bertumbuh, akar dapat berkembang dan bernapas bebas, serta tingkat adaptasi terhadap lingkungan meningkat.
Daun Anggrek Hitam juga akan menjadi lebih hijau dan segar, risiko pembusukan berkurang, serta tingkat keberhasilan konservasi meningkat secara signifikan. Dalam jangka panjang, metode ini mendukung pelestarian Anggrek hitam dengan survival rate yang meningkat sebesar 92%.