
Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan salah satu dari dua kabupaten di Provinsi Jambi yang memiliki wilayah pesisir sekaligus laut. Salah satu destinasi pariwisata yang terkenal di kawasan ini yaitu “Ekowisata Mangrove Pangkal Babu”
Kawasan hutan mangrove ini juga dikenal menjadi habitat alami berbagai satwa, salah satunya adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Dalam dua dekade terakhir, hutang mangrove di Desa Wisata Pangkal Babu mengalami kerusakan hingga 30% dari luas totalnya. Kerusakan ini menyebabkan terganggunya fungsi ekologis pesisir, meningkatkan abrasi pantai, dan berkurangnya keanekaragaman hayati termasuk menurunnya populasi kepiting bakau dan monyet ekor panjang yang seharusnya menjadi salah satu satwa khas di ekosistem mangrove.
Mengatasi permasalahan tersebut, AFT Sultan Thaha melakukan upaya rekolonisasi Monyet Ekor Panjang melalui Metode Ecological Attraction. Upaya ini mencakup penyediaan pakan alami melalui penanaman mangrove serta pelestarian kepiting bakau yang berhabitat di akar mangrove. Dengan begitu akan meningkatkan kualitas interaksi ekologis antara flora, fauna, dan habitatnya sehingga terbentuk keseimbangan yang berkelanjutan dalam ekosistem pesisir.
Melihat dari kategorinya berdasarkan IUCN, Monyet Ekor Panjang tergolong sebagai fauna Endangered. Persebaran dan wilayah jelajah fauna ini dipengaruhi oleh berbagai faktor ekologis, termasuk ketersediaan sumber makanan, tingkat persaingan antar individu dalam kelompok, hingga ketersediaan tempat berlindung.
Populasi Monyet Ekor Panjang semakin rentan apabila terjadi penurunan jumlah individu yang signifikan akibat kombinasi faktor ekologis dan antropogenik, seperti hilangnya habitat, berkurangnya ketersediaan sumber makanan, serta meningkatnya tekanan dari aktivitas manusia, termasuk perburuan dan gangguan wisata.
Rekolonisasi Monyet Ekor Panjang bertujuan untuk memulihkan populasi mereka di kawasan konservasi mangrove Pangkal Babu. Upaya ini meningkatkan kualitas interaksi ekologis antara flora, fauna, dan habitatnya. Rekolonisasi dilakukan dengan metode Ecological Attraction, yaitu dengan mengintegrasikan kegiatan penanaman mangrove, konservasi kepiting bakau, dan penyediaan pakan alami untuk menciptakan kondisi habitat yang lebih stabil. Tercatat, pada Tahun 2024, dilakukan penanaman 1.000 pohon bakau (Rhizopoda mucronata), dan di Tahun 2025 dilakukan penanaman kembali sebanyak 2.000 pohon bakau.
Rekolonisasi Monyet Ekor Panjang melalui Metode Ecological Attraction telah memberikan dampak yang positif bagi ekosistem setempat. Melalui penanaman bakau yang dilakukan pada dua tahun berturut-turut, telah memunculkan keberadaan 400 ekor Kepiting Bakau dan 10 Monyet Ekor Panjang di Tahun 2024, dan mengalami peningkatan sebanyak 600 ekor Kepiting Bakau dan 17 Monyet Ekor Panjang di Tahun 2025.
Melalui peningkatan jumlah populasi Kepiting Bakau dan Monyet Ekor Panjang ini, membuktikan bahwa metode Ecological Attraction telah berhasil dilakukan oleh AFT Sultan Thaha dan mampu menciptakan keseimbangan rantai makanan serta ekosistem pesisir.