
Wilayah konservasi yang dijalankan oleh AFT SMB II di Punti Kayu cukup luas dan memiliki beragam flora maupun fauna di dalamnya. Salah satunya yaitu Pohon Tanjung (Mimusops elengi). Meskipun demikian, kualitas tanah yang ada di Punti Kayu tidak cukup baik karena ketersediaan hara tanah yang rendah, aktivitas mikroba tanah terbatas, serta struktur tanah yang cenderung padat dan kurang gembur. Hal ini membuat tanaman tanjung menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang kurang optimal.
Sementara itu, di wilayah operasional AFT SMB II memiliki tanah yang subur sehingga tanaman jambu air pun tumbuh dengan subur baik secara vegetatif maupun generatif. Limbah buah jambu air afkir/busuk sangat banyak, belum termanfaatkan, dan menambah beban organik yang berpotensi menimbulkan bau serta emisi gas rumah kaca dari pembusukan terbuka.
Merespon dua keadaan tersebut, AFT SMB II menemukan peluang untuk dapat memperbaiki kualitas tanah sebagai tempat Pohon Tanjung ditanam yaitu dengan Pupuk Organik Cair (POC) dan pupuk organik padat dengan memanfaatkan limbah jambu air afkir.
Hal ini dilakukan karena jambu air afkir kaya akan gula sederhana, asam organik, enzim, fitohormon (auksin/sitokinin), dan konsosrsium mikroba pengurai untuk mengaktivasi proses biologis di zona akar (phytoactivation). POC dan pupuk organik padat ini mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroba rizofer, dan mempercepat fase pertumbuhan junevil Mimusops elengi.
Limbah jambu air afkir berfungsi sebagai bio-katalitik yang mampu mempercepat fermentasi dan memperkaya kualitas pupuk organik cair dan padat bagi tanaman Mimusops elengi. Pembuatan POC dan pupuk organik padat juga berfungsi untuk menekan ketergantungan terhadap pemakaian pupuk kimia untuk menyuburkan tanah di area Punti Kayu.
Setelah dilakukan pemanfaatan jambu air afkir sebagai bahan Bio-Catalytic Phytoactivation (BCP) POC dan pupuk organik padat, lalu diaplikasikan ke Pohon Tanjung. Pengaplikasian POC dilakukan dengan cara menyiramkan/menyemprotkan pada daun tanaman dengan dosis rendah secara rutin, sedangkan untuk pupuk organik padat dibenamkan melingkar pada tanaman sebagai soil conditioner di zona perakaran diikuti pemantauan indikator tanah pada tanaman seperti C-organik, rasio C/N, porositas, tinggi, jumlah daun, dan survival.
Senyawa organik hasil fermentasi jambu air afkir pada POC dan pupuk organik padat bekerja sebagai biostimulator dan soil conditioner alami pada tanah. Sehingga tanah menjadi lebih gembur dan berpori dengan aerasi serta drainase yang lebih baik, memungkinkan akar tumbuh lebih bebas dan dalam. Selain itu, pupuk ini mampu meningkatkan ketersediaan dan efisiensi serapan hara, aktivitas mikroba rizosfer yang lebih tinggi, struktur tanah lebih gembur dan berpori pertumbuhan vegetatif serta tingkat hidup bibit meningkat, dan biaya pemeliharaan tanaman lebih efisien.
Melalui penerapan inovasi ini, AFT SMB II mampu melakukan budidaya Mimusops elengi sebanyak 100 pohon di Tahun 2025, dan memanfaatkan limbah jambu air afkir sebanyak 8-120 kg/bulan.